Thursday, May 12, 2016

Hari ini, 11 mei.
Aku mendapati hatiku sangat sakit.
Rasanya seperti luka pedih yang kembali terulang. Rasanya seperti ditinggalkan. Ya rasanya seperti dibuang. Aku tak paham, kenapa selalu seperti ini. Kenapa hal sepele dibesar-besarkan, pikirku.
Rasanya seperti aku saja yang selalu salah. Apa iya aku memang selalu salah? Atau memang miss communication saja? Pikiranku bercabang-cabang.

Ah, aku tak bisa menjelaskan lagi pedih yang seperti apa yang kurasakan, seakan hujan hari ini tak henti-hentinya turun membasahi bumi pertiwi ini. Hujan yang biasanya suasananya gerah, cerah dan kemudian muncul pelangi, hari ini berubah menjadi dingin, kelabu, dan tak ada pelangi.

Aku melihat wajahku di cermin, semua sia-sia, pikirku. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi entah kenapa kejadian ini terulang lagi. Aku tak paham. Aku seperti air yang dipakai untuk mandi, mengalir ke comberan lalu ke paret lalu ke sungai lalu entah kemana air itu bermuara. Tak ada gunanya lagi.

Sejenak aku berpikir kembali. Apa harus aku yang terus mengalah? Apa harus ku korbankan (lagi) gengsi ku demi memperbaiki semuanya? Atau apakah aku yang terlalu bodoh selama ini?

Sudahlah. Biarlah waktu yang menjawabnya. Biarlah diamku menggerogoti seluruh kesunyian ini. Sampai pada akhirnya aku menemukan kembali cahaya yang selalu membuatku hangat seperti hujan di kala itu. Tak seperti hujan hari ini. Aku percaya, aku mampu menemukan pelangi di setiap hujan yang menghampiri bumi pertiwi ku.

No comments:

Post a Comment